
Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan betapa dahsyatnya kekuatan yang tersembunyi di balik organ kecil tak bertulang di dalam mulut kita? Lisan, meski kecil, memiliki kemampuan untuk mengangkat derajat seseorang setinggi langit atau justru menjerumuskannya ke jurang terdalam. Dalam ajaran Islam, terdapat penekanan yang sangat kuat pada keutamaan menjaga lisan, sebuah amalan yang seringkali dianggap sepele namun menjadi kunci keselamatan dan kebahagiaan hakiki. Mengendalikan setiap patah kata yang keluar bukan sekadar soal etika, melainkan cerminan dari kedalaman iman dan takwa seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Mengapa Mengendalikan Ucapan Begitu Penting?
Setiap kata yang terucap adalah doa atau dosa. Ia tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid untuk kemudian dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bahkan mengaitkan keselamatan seseorang dengan kemampuannya dalam menahan lidah. Lisan yang terjaga akan menghasilkan ketenangan jiwa, mempererat tali silaturahmi, dan menutup pintu-pintu keburukan seperti fitnah, adu domba, dan perselisihan. Sebaliknya, lisan yang lepas kendali adalah sumber dari segala malapetaka, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalil dan Janji Allah, Keutamaan Agung di Balik Menjaga Lisan
Memahami betapa besarnya ganjaran bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam mengendalikan ucapannya akan memotivasi kita untuk lebih berhati-hati. Inilah beberapa keutamaan menjaga lisan yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan.
Jaminan Surga dari Rasulullah SAW
Janji yang paling didambakan oleh setiap muslim adalah surga. Ternyata, salah satu jalan termudahnya adalah dengan menjaga lisan dan kemaluan. Rasulullah SAW secara pribadi memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang mampu melakukannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad, Nabi SAW bersabda:
Latin: Man yadhman lii maa baina lahyaihi wa maa baina rijlayhi, adhman lahul jannah.
Artinya: “Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)
Hadis ini secara tegas menunjukkan betapa krusialnya peran lisan dalam menentukan nasib kita di akhirat.
Cerminan Kesempurnaan Iman
Kualitas iman seseorang dapat terukur dari cara ia berbicara. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir akan selalu berpikir sebelum berucap. Ia akan memilih antara menyampaikan kebaikan yang bermanfaat atau diam yang menyelamatkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
Latin: Man kaana yu’minu billaahi wal yaumil aakhiri falyaqul khairan au liyashmut.
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diangkat Derajatnya dan Meraih Ridha Allah
Satu kalimat baik yang kita ucapkan dengan tulus, tanpa kita sadari, bisa jadi merupakan penyebab kita meraih ridha Allah SWT. Sebuah perkataan yang menenangkan, nasihat yang tulus, atau pujian yang membangkitkan semangat bisa mengangkat derajat kita di sisi-Nya. Sebaliknya, satu kalimat buruk yang dianggap remeh bisa mendatangkan murka-Nya.
Benteng dari Dosa-Dosa Besar
Menahan ucapan adalah cara paling efektif untuk terhindar dari dosa-dosa besar yang sering kali berawal dari lidah. Dosa seperti ghibah (menggunjing), fitnah (tuduhan keji), namimah (adu domba), dan berkata dusta adalah penyakit lisan yang dapat menghancurkan pahala dan hubungan antarmanusia. Dengan menjaga lisan, kita secara otomatis membangun benteng pertahanan dari perbuatan tercela tersebut.
BACA JUGA: Mengupas Tuntas Hukum Memberikan Hadiah dalam Islam yang Wajib Diketahui
Doa untuk Memohon Kemampuan Menjaga Lisan
Menyadari betapa sulitnya amalan ini, kita dianjurkan untuk senantiasa memohon pertolongan Allah SWT. Salah satu doa yang bisa kita amalkan adalah doa memohon akhlak yang mulia, termasuk di dalamnya penjagaan lisan:
Latin: Allahummahdini li ahsanil akhlaq, la yahdi li ahsaniha illa anta. Washrif ‘anni sayyi-aha, la yashrifu ‘anni sayyi-aha illa anta.
Artinya: “Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukiku kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkanku darinya kecuali Engkau.” (HR. Muslim)
Tingkatkan Amalan, Salurkan Kebaikan Lisan Melalui Sedekah
Mengamalkan keutamaan menjaga lisan tidak hanya berhenti pada menahan diri dari perkataan buruk. Level selanjutnya adalah aktif menggunakan lisan untuk kebaikan, seperti berzikir, memberi nasihat, dan mengajak orang lain pada kebaikan. Ajakan kepada kebaikan ini dapat kita wujudkan dalam aksi nyata, yaitu dengan menyalurkan sebagian rezeki kita untuk mereka yang membutuhkan.
Mari sempurnakan ikhtiar kita dalam menjaga lisan dengan menambah amalan baik melalui sedekah. Anda dapat menyalurkan niat tulus Anda melalui lembaga terpercaya seperti Yayasan Syekh Ali Jaber. Setiap rupiah yang Anda sedekahkan akan menjadi saksi kebaikan Anda, mengalirkan pahala jariyah yang tak terputus, dan menjadi bukti bahwa lisan dan perbuatan Anda selaras dalam ketaatan.

