
Tata cara shalat gerhana bulan sesuai sunnah dikerjakan sebanyak dua rakaat. Setiap rakaat memiliki tata cara khusus, yaitu terdiri dari dua kali berdiri, dua kali membaca surah Al-Fatihah, dan dua kali rukuk, lalu diakhiri dengan dua kali sujud seperti shalat pada umumnya.
Dalil dan Dasar Hukum Amalan Gerhana
Fenomena gerhana bulan (khusuuf) bukanlah pertanda buruk atau mitos, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala. Saat momen ini terjadi, Rasulullah ﷺ menuntun umatnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Hal ini termaktub dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Terjemahan: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)
Penjelasan Singkat: Melalui hadits ini, Rasulullah ﷺ menggeser pola pikir masyarakat jahiliyah yang mengaitkan gerhana dengan mitos kematian tokoh besar. Beliau mengajarkan 4 amalan utama saat gerhana: berdoa, bertakbir, mendirikan shalat gerhana, dan mengeluarkan sedekah.
Pembahasan Mendalam: Langkah-Langkah Ibadah
Menunaikan shalat gerhana bulan hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Shalat ini diserukan dengan panggilan “Ash-shalatu jaami’ah” (Mari dirikan shalat berjamaah), tanpa didahului azan maupun iqamah.
Niat Shalat Gerhana Bulan (Khusuuf)
Sebelum memulai, pastikan hati benar-benar ikhlas. Jika diucapkan, niat shalat gerhana bulan (sebagai makmum) adalah:
Ushallî sunnatal khusûfil qamari rak‘ataini ma’mûman lillâhi ta‘âlâ. (Aku niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala).
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan Sesuai Sunnah (Step-by-Step)
Untuk memudahkan pemahaman jamaah, perhatikan langkah-langkah berikut ini. Analogi sederhananya: Bayangkan shalat gerhana ini seperti kita sedang ‘mengetuk pintu’ rahmat Allah lebih lama dari biasanya. Adanya dua kali rukuk dalam satu rakaat ibarat permohonan ampunan yang kita lipatgandakan, karena kita sedang dipertontonkan keagungan Allah di langit.
Berikut urutan pengerjaannya:
- Takbiratul Ihram, dilanjutkan membaca doa Iftitah.
- Membaca Ta’awudz dan Surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan membaca surah Al-Quran yang panjang (dijahrkan/dikeraskan suaranya oleh imam).
- Rukuk Pertama, dengan ruku yang panjang sambil membaca tasbih.
- I’tidal Pertama, bangkit dari rukuk sambil membaca “Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd”.
- Berdiri Kedua, di posisi ini, jangan langsung sujud. Anda harus kembali membaca Surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan membaca surah Al-Quran (biasanya lebih pendek dari surah yang pertama).
- Rukuk Kedua, membaca tasbih dengan durasi sedikit lebih singkat dari rukuk pertama.
- I’tidal Kedua, bangkit dari rukuk dan tuma’ninah.
- Dua Kali Sujud, sujud dilakukan dengan durasi yang panjang, diselingi duduk di antara dua sujud seperti biasa.
- Bangkit untuk Rakaat Kedua, lakukan persis seperti rakaat pertama (terdiri dari 2 kali berdiri, 2 kali Al-Fatihah, dan 2 kali rukuk).
- Tasyahud Akhir dan Salam, diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri.
Setelah shalat selesai, sangat disunnahkan bagi khatib untuk menyampaikan Khutbah Gerhana yang berisi pesan taqwa, peringatan akan hari kiamat, serta anjuran memperbanyak istighfar dan sedekah.
BACA JUGA: Mengenal Macam-Macam Salat Sunnah, Apa Saja dan Bagaimana Tata Caranya?
Frequently Asked Question
Boleh dikerjakan sendiri (munfarid) di rumah, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, ibadah ini sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) untuk dikerjakan secara berjamaah di masjid.
Jika dikerjakan secara berjamaah di masjid, disunnahkan bagi imam/khatib untuk menyampaikan khutbah setelah shalat selesai. Namun, jika Anda mengerjakannya sendiri di rumah, tidak perlu ada khutbah.
Waktu pelaksanaan ibadah shalat gerhana dimulai sejak gerhana terjadi hingga bulan kembali utuh (terang benderang) seperti semula, atau hingga terbitnya fajar (masuknya waktu Subuh).
Menyempurnakan Amalan Gerhana dengan Sedekah
Sahabat, Rasulullah ﷺ dalam hadits di atas dengan jelas menyandingkan perintah shalat gerhana dengan perintah bersedekah (“…wa shalluu wa tashaddaquu”). Ketika langit sedang gelap karena gerhana, mari kita terangkan alam kubur dan akhirat kita dengan cahaya amal jariyah.
Yayasan Syekh Ali Jaber mengajak Anda untuk menyempurnakan amalan di momen penuh kebesaran Allah ini melalui program Infaq dan Sedekah Jariyah. Mulai dari santunan yatim, pengembangan dakwah Al-Quran, hingga pembinaan umat. Sedekah Anda hari ini adalah bukti keimanan dan wujud kepatuhan pada sunnah Nabi ﷺ.
Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi panduan yang menenangkan serta menambah kekhusyukan ibadah kita. Wallahu a’lam bish-shawab.






