Ini Dia Keutamaan Bulan Safar Menurut Al-Quran dan Hadits, Bukan Bulan Sial - Yayasan Syekh Ali Jaber

Ini Dia Keutamaan Bulan Safar Menurut Al-Quran dan Hadits, Bukan Bulan Sial

Ini Dia Keutamaan Bulan Safar Menurut Al-Quran dan Hadits, Bukan Bulan Sial

Setiap kali bulan Safar tiba, sebagian masyarakat masih menyimpan rasa was was. Ada yang menunda pernikahan, menahan diri untuk memulai usaha baru, bahkan mengadakan ritual tolak bala di hari Rabu terakhir bulan ini. Padahal, jika ditelusuri dari sumber yang shahih, keutamaan bulan Safar justru terletak pada pelurusan keyakinan tersebut. Islam datang bukan untuk menambah ketakutan, melainkan untuk menguatkan tawakal kepada Allah SWT. Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja keutamaan bulan Safar, asal usul mitos kesialannya, serta amalan yang bisa diperbanyak selama bulan kedua dalam kalender Hijriah ini.

Apa Itu Bulan Safar dalam Kalender Hijriah

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah, terletak setelah Muharram dan sebelum Rabiul Awal. Nama “Safar” berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti kosong, karena dahulu masyarakat Arab jahiliah biasa mengosongkan rumah mereka untuk pergi berperang atau berdagang pada bulan ini.

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam juga terjadi di bulan Safar. Di antaranya adalah awal perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah, serta beberapa ekspedisi dakwah pada masa awal Islam. Fakta fakta sejarah ini menunjukkan bahwa bulan Safar adalah waktu yang produktif untuk perjuangan dan dakwah, bukan waktu yang harus dihindari.

Keutamaan Bulan Safar Menurut Al-Quran dan Hadits

Keutamaan utama bulan Safar adalah sebagai momentum penegasan akidah bahwa tidak ada satu pun waktu, termasuk Safar, yang membawa kesialan dengan sendirinya. Semua kejadian baik maupun buruk terjadi atas izin Allah semata.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran,

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ

Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi.” (QS. At-Taubah, 36)

Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan seluruh bulan, termasuk Safar, sama di hadapan Allah. Tidak ada bulan yang secara zat membawa berkah atau petaka.

Penegasan ini diperkuat oleh hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya, “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah atau anggapan sial pada sesuatu, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari no. 5707 dan Muslim no. 2220)

Hadits ini menjadi rujukan utama para ulama, seperti Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, untuk menjelaskan bahwa keyakinan tentang bulan Safar sebagai bulan sial adalah keliru dan wajib ditinggalkan oleh setiap muslim.

BACA JUGA: Keutamaan Taqwa dalam Al-Quran dan Hadits yang Wajib Diketahui Semua Muslim

Mitos Kesialan Bulan Safar dan Bantahannya dalam Islam

Mitos kesialan bulan Safar berasal dari kepercayaan masyarakat Arab jahiliah, bukan dari ajaran Islam. Rasulullah SAW secara tegas membantahnya melalui hadits di atas.

Di sebagian wilayah Nusantara, kepercayaan ini berkembang menjadi tradisi Rebo Wekasan, yaitu ritual yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar dengan keyakinan bahwa pada hari itu banyak bala diturunkan. Sejumlah kajian menyebutkan tradisi ini sebenarnya bercampur dengan pengaruh kepercayaan lokal yang berkembang jauh setelah masa Rasulullah SAW, sehingga tidak memiliki dasar dalam Al-Quran maupun hadits shahih.

Islam mengajarkan konsep tauhid yang murni, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang mengatur segala kejadian di alam semesta. Menganggap suatu waktu membawa nasib buruk tanpa dasar yang jelas termasuk bentuk kepercayaan yang bertentangan dengan akidah tauhid. Karena itu, keutamaan bulan Safar yang sesungguhnya adalah kesempatan untuk memperkuat keyakinan ini, bukan menambah kecemasan yang tidak berdasar.

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Safar

Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan secara khusus untuk bulan Safar. Namun, seorang muslim tetap dianjurkan menjaga dan memperbanyak amal saleh sebagaimana di bulan bulan lainnya.

Beberapa amalan yang bisa diperbanyak selama bulan Safar antara lain

  1. Memperbanyak istighfar dan taubat sebagai bentuk introspeksi diri.
  2. Menjaga sholat lima waktu, terutama sholat berjamaah di masjid.
  3. Membaca Al-Quran dan merenungkan maknanya.
  4. Menjauhi segala bentuk keyakinan yang tidak berdasar, termasuk ramalan nasib.
  5. Meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah dan bantuan kepada sesama.

Amalan amalan ini bukan sesuatu yang eksklusif untuk bulan Safar, melainkan bentuk konsistensi ibadah yang seharusnya dijaga sepanjang tahun.

Keutamaan Bulan Safar dan Semangat Berbagi kepada Sesama

Salah satu benang merah dari pelurusan mitos bulan Safar adalah penguatan tawakal, dan tawakal yang benar biasanya berbuah pada kepedulian terhadap sesama. Sedekah adalah pemberian harta atau bentuk kebaikan lain kepada orang yang membutuhkan, tanpa mengharapkan imbalan duniawi, semata mata mengharap ridha Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ

Artinya, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah, 261)

Ketika seorang muslim melewati bulan Safar dengan hati yang tenang dan yakin bahwa rezeki serta musibah sepenuhnya berada di tangan Allah, ia akan lebih ringan untuk berbagi. Bukan karena takut sial, melainkan karena yakin bahwa harta yang disedekahkan tidak akan mengurangi rezekinya, justru menjadi jalan keberkahan.

Frequently Asked Question

Apakah bulan Safar benar benar bulan sial dalam Islam?

Tidak. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar. Keyakinan tersebut berasal dari tradisi jahiliah, bukan ajaran Islam.

Apa hadits utama tentang bulan Safar?

Hadits yang paling sering dirujuk adalah “Laa ‘adwaa wa laa thiyarata wa laa haamata wa laa shafar” yang artinya tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial, tidak ada kesialan burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan Safar. (HR. Bukhari, Muslim)

Apakah ada amalan khusus di bulan Safar?

Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan secara spesifik untuk bulan Safar. Umat Islam dianjurkan tetap menjaga ibadah harian seperti sholat, membaca Al-Quran, istighfar, dan sedekah.

Apa itu Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan adalah tradisi yang dilakukan sebagian masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar dengan keyakinan turunnya bala. Tradisi ini tidak memiliki dasar dalam Al-Quran maupun hadits shahih.

Bolehkah menikah di bulan Safar?

Boleh. Tidak ada larangan menikah di bulan Safar dalam ajaran Islam. Larangan tersebut hanya mitos yang berkembang di masyarakat.

Penutup

Keutamaan bulan Safar sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menghindari kesialan, yaitu keyakinan penuh bahwa setiap kejadian berada dalam kendali Allah SWT. Ketika hati sudah tenang dengan tawakal, langkah untuk berbuat baik pun menjadi lebih ringan, termasuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Jika bulan Safar ini terasa menjadi pengingat untuk lebih peduli kepada sesama, Anda bisa menyalurkan kebaikan tersebut melalui yayasansyekhalijaber.com/sedekah. Setiap sedekah yang disalurkan insyaAllah menjadi wasilah kebaikan bagi anak yatim, pendidikan, dan dakwah yang terus berjalan.

Bagikan :

6282260707044

Kirim Email

Donasi Sekarang