
Siapa saja sahabat nabi yang dijamin masuk surga? Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ menyebut sepuluh sahabat secara langsung sebagai penghuni surga. Mereka dikenal dalam literatur Islam sebagai al asyarah al mubasysyaruna bil jannah atau sepuluh orang yang mendapat kabar gembira tentang surga.
Kedudukan mereka bukan semata karena dekat secara pribadi dengan Rasulullah ﷺ. Kehidupan para sahabat tersebut dipenuhi iman, pengorbanan, keberanian, amanah, kepedulian kepada umat, dan kesungguhan dalam membela agama Allah.
Mengenal mereka karena itu bukan sekadar menghafal sepuluh nama. Kisah mereka dapat membantu kita memahami bagaimana iman melahirkan amal yang nyata.
Siapa yang Disebut Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga
Sepuluh sahabat yang dimaksud adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Mereka sering disebut dengan istilah Arab
العشرة المبشرون بالجنة
Artinya
Sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan surga.
Perlu dipahami bahwa istilah ini tidak berarti hanya sepuluh sahabat tersebut yang pernah mendapat kabar gembira tentang surga. Beberapa sahabat lainnya juga memperoleh kabar serupa melalui hadis yang berbeda. Sepuluh orang ini memiliki penyebutan khusus karena nama mereka disebut bersama dalam riwayat tentang kabar gembira surga.
Dalil tentang 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga
Dasar utama penyebutan sepuluh sahabat tersebut terdapat dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi. Hadis ini dinilai sahih dalam penilaian Darussalam yang ditampilkan pada Jami at Tirmidzi no. 3747.
Rasulullah ﷺ bersabda
أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ
Artinya
Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Talhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.
HR. At Tirmidzi no. 3747
Riwayat lain dalam Jami at Tirmidzi no. 3748 juga menyebut sepuluh orang tersebut. Dalam riwayat itu, Sa’id bin Zaid menjadi perawi yang akhirnya menyebut dirinya sebagai orang kesepuluh setelah menyebut sembilan sahabat lainnya. Riwayat tersebut juga dinilai sahih.
Al Quran sendiri memberikan pujian kepada generasi awal kaum Muhajirin dan Ansar.
Allah SWT berfirman
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya
Orang orang yang terdahulu lagi yang pertama masuk Islam di antara orang orang Muhajirin dan Ansar dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga surga yang mengalir sungai sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
Mengenal 10 Sahabat Rasulullah Penghuni Surga
Sepuluh sahabat ini mempunyai latar belakang dan peran yang berbeda. Ada pemimpin, pedagang, pejuang, dan tokoh yang dikenal karena amanahnya. Namun semuanya dipersatukan oleh iman dan pengabdian kepada Islam.
1. Abu Bakar Ash Shiddiq
Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan salah satu orang paling awal menerima Islam dan menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Ia juga menemani Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Kedekatan itu tidak membuat Abu Bakar sekadar menjadi pendamping, tetapi juga sosok yang berkorban dengan tenaga, harta, dan seluruh kemampuannya untuk dakwah.
Teladan utama Abu Bakar adalah kejujuran iman, kesetiaan, dan keberanian mendahulukan kepentingan agama.
2. Umar bin Khattab
Umar bin Khattab adalah khalifah kedua dan salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam.
Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal keras dalam menentang dakwah. Setelah menerima hidayah, ketegasan yang sama berubah menjadi kekuatan untuk membela kebenaran dan menjaga umat.
Dari Umar kita belajar bahwa masa lalu seseorang tidak menentukan akhir kehidupannya. Hidayah dapat mengubah arah hidup ketika diterima dengan sungguh sungguh.
3. Utsman bin Affan
Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga dan dikenal dengan gelar Dzun Nurain. Ia juga menjadi utusan Rasulullah ﷺ ke Makkah menjelang Perjanjian Hudaibiyah.
Kisah Utsman mengajarkan kelembutan, kesetiaan, dan pengorbanan harta untuk kepentingan umat. Kekayaan baginya bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, tetapi dapat menjadi sarana berkhidmat.
4. Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib tumbuh dekat dengan Rasulullah ﷺ dan termasuk orang yang menerima Islam sejak usia muda. Ia kemudian menjadi khalifah keempat.
Ali dikenal dengan keberanian dan kedalaman ilmunya. Kedekatan dengan Rasulullah ﷺ dibuktikannya dengan kesetiaan dan pengabdian yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Keteladanan Ali mengingatkan bahwa ilmu perlu berjalan bersama keberanian dalam membela kebenaran.
5. Talhah bin Ubaidillah
Talhah bin Ubaidillah merupakan salah satu sahabat yang menunjukkan keberanian besar dalam melindungi Rasulullah ﷺ.
Dalam Perang Uhud, Talhah dikenal sebagai salah seorang sahabat yang melindungi Nabi ketika keadaan pertempuran menjadi sangat berat.
Darinyalah kita belajar tentang pengorbanan. Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti sebagai perasaan, melainkan dibuktikan melalui tindakan.
6. Zubair bin Awwam
Zubair bin Awwam termasuk generasi awal kaum Muslimin dan dikenal sebagai hawari Rasulullah ﷺ.
Keberanian dan kesetiaannya membuat Zubair mempunyai tempat penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Kisah Zubair mengajarkan bahwa iman membutuhkan keteguhan, terutama ketika kebenaran harus dipertahankan dalam keadaan sulit.
7. Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf merupakan seorang Muhajirin yang dikenal sebagai pedagang dan memiliki kekayaan besar, sekaligus menggunakan hartanya dalam berbagai bentuk kebaikan.
Ia menunjukkan bahwa Islam tidak memerintahkan seseorang menjauhi kekayaan. Yang harus dijaga adalah bagaimana kekayaan diperoleh, digunakan, dan dipertanggungjawabkan.
Harta dapat menjadi jalan mendekat kepada Allah ketika digunakan secara benar dan memberi manfaat kepada manusia.
8. Sa’ad bin Abi Waqqash
Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk orang yang menerima Islam pada periode awal. Ia juga dikenal sebagai pemanah yang membela Rasulullah ﷺ dan disebut sebagai orang yang melepaskan anak panah pertama dalam perjuangan Islam.
Perjalanan hidup Sa’ad memperlihatkan perpaduan antara keimanan, keberanian, dan kemampuan yang digunakan untuk kepentingan agama.
9. Sa’id bin Zaid
Sa’id bin Zaid adalah salah satu sahabat yang secara langsung disebut dalam kelompok sepuluh penghuni surga.
Menariknya, dalam salah satu riwayat, Sa’id sendiri meriwayatkan penyebutan sepuluh orang penghuni surga. Setelah menyebut sembilan nama, ia akhirnya menjelaskan bahwa dirinya adalah orang kesepuluh.
Sikap tersebut dapat menjadi pengingat tentang kerendahan hati meskipun seseorang memiliki kedudukan yang sangat mulia.
10. Abu Ubaidah bin Jarrah
Abu Ubaidah bin Jarrah dikenal sebagai salah satu sahabat yang memiliki sifat amanah yang kuat.
Dalam literatur sirah, ia dikenal dengan julukan orang kepercayaan umat.
Keteladanannya sangat relevan bagi kehidupan sehari hari. Amanah bukan hanya dibutuhkan oleh pemimpin besar, tetapi juga oleh setiap muslim dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, dan urusan harta.
BACA JUGA: 10 Malaikat Allah Beserta Tugasnya yang Perlu Diketahui
Apa yang Dapat Kita Teladani dari Mereka
Pelajaran terbesar dari sepuluh sahabat tersebut adalah bahwa kemuliaan di sisi Allah dibangun melalui iman yang melahirkan amal.
Ada yang berjuang melalui kepemimpinan. Ada yang menjaga Rasulullah ﷺ di medan perang. Ada yang menggunakan harta untuk kebaikan. Ada pula yang dikenal karena ilmu dan amanahnya.
Artinya, jalan untuk berbuat baik tidak harus sama bagi setiap orang. Yang penting adalah menggunakan apa yang Allah titipkan kepada kita untuk sesuatu yang diridai-Nya.
Termasuk di dalamnya adalah harta.
Allah SWT berfirman
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
QS. Al Baqarah ayat 261
Ayat tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai rumus keuntungan materi dari sedekah. Pesan utamanya adalah besarnya karunia Allah bagi orang yang menginfakkan harta dengan niat yang benar.
Meneladani Kepedulian Sahabat Melalui Sedekah
Sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan seorang muslim untuk mencari rida Allah dan memberi manfaat kepada orang lain.
Keteladanan para sahabat mengajarkan bahwa iman perlu meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan. Dalam kehidupan hari ini, salah satu caranya adalah membantu pendidikan Al Quran, anak yatim, kaum dhuafa, pembangunan fasilitas umat, dan berbagai kebutuhan sosial sesuai kemampuan.
Yayasan Syekh Ali Jaber menjalankan program di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Salah satu contoh kegiatan yang telah dilaporkan adalah Gema Qurban 2026 yang menjangkau 2.748 penerima manfaat di lima wilayah. Dalam laporan tersebut, 70 persen penerima merupakan fakir dan dhuafa, 20 persen santri penghafal Al Quran, dan 10 persen komunitas umum.
Data kegiatan seperti ini penting karena sedekah bukan hanya berbicara tentang niat pemberi, tetapi juga tentang amanah lembaga yang menerima dan menyalurkannya.
Bagi Anda yang ingin menjadikan sebagian rezeki sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, pilihan program sedekah Yayasan Syekh Ali Jaber dapat dilihat melalui yayasansyekhalijaber.com/sedekah. Pilihlah program yang paling sesuai dengan niat dan kemampuan tanpa memberatkan diri.
FAQ
Siapa saja 10 sahabat yang dijamin masuk surga
Mereka adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Apa hadis tentang 10 sahabat yang masuk surga
Salah satu dalil utamanya terdapat dalam Jami at Tirmidzi no. 3747. Rasulullah ﷺ menyebut kesepuluh nama tersebut dan menyatakan masing masing berada di surga. Riwayat tersebut dinilai sahih dalam penilaian Darussalam.
Apakah hanya sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira surga
Tidak. Ada sahabat lain yang mendapat kabar gembira surga dalam riwayat yang berbeda. Sepuluh sahabat ini dikenal secara khusus karena mereka disebut bersama dalam hadis yang masyhur.
Apa arti al asyarah al mubasysyaruna bil jannah
Istilah tersebut berarti sepuluh orang yang mendapat kabar gembira tentang surga. Istilah ini digunakan untuk menyebut sepuluh sahabat Rasulullah ﷺ yang namanya disebut dalam hadis tersebut.
Apa pelajaran terpenting dari kehidupan sepuluh sahabat tersebut
Pelajaran utamanya adalah iman perlu diwujudkan melalui tindakan. Mereka menunjukkan keberanian, kejujuran, ilmu, amanah, pengorbanan, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap umat.
Penutup
Mengenal sahabat nabi yang dijamin masuk surga seharusnya tidak berhenti pada mengetahui nama mereka. Kehidupan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad, Sa’id, dan Abu Ubaidah menunjukkan bahwa kemuliaan dibangun melalui iman yang dijaga serta amal yang terus diusahakan.
Kita mungkin tidak memiliki kemampuan dan kesempatan seperti mereka. Namun kita tetap dapat meneladani semangatnya melalui kebaikan yang ada dalam jangkauan kita.
Jika salah satu bentuk kebaikan yang ingin Anda lakukan adalah berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan, Anda dapat melihat berbagai program di yayasansyekhalijaber.com/sedekah dan memilih amanah kebaikan yang paling sesuai dengan kemampuan.




