
Tahukah Anda bahwa ada sepuluh hari paling mulia di seluruh penjuru tahun — bahkan lebih agung dari hari-hari Ramadan dalam hal amalan sunnah? Itulah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan puasa di dalamnya adalah salah satu amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, agar ibadah ini diterima dan bernilai sempurna, memahami niat puasa Dzulhijjah dengan benar adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan.
Mengapa Puasa di Bulan Dzulhijjah Begitu Istimewa?
Bulan Dzulhijjah bukan sekadar bulan haji. Ia adalah bulan penuh berkah yang Allah jadikan sebagai salah satu dari empat bulan haram (mulia) dalam Islam. Di dalamnya tersimpan momen-momen agung: Hari Arafah, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan waktu-waktu mulia ini dalam firman-Nya:
وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” — QS. Al-Fajr: 1–2
Para ulama tafsir, di antaranya Ibnu Katsir dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menyatakan bahwa “malam yang sepuluh” dalam ayat ini merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sesuatu yang mulia, dan ini menunjukkan betapa agungnya hari-hari tersebut di sisi-Nya.
Dalil Puasa Dzulhijjah dari Hadits Shahih
Keutamaan beramal — termasuk berpuasa — pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah ditegaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (pertama Dzulhijjah) ini.” — HR. Bukhari, no. 969
Para sahabat kemudian bertanya, “Apakah juga tidak (melebihi) jihad di jalan Allah?” Rasulullah ﷺ menjawab bahwa tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.
Hadits ini menjadi landasan kokoh betapa puasa dan seluruh ibadah di hari-hari ini memiliki nilai yang luar biasa agung.
Jenis-Jenis Puasa Dzulhijjah
Sebelum menghafal niatnya, penting untuk memahami bahwa puasa Dzulhijjah terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tanggalnya:
1. Puasa Sunnah Tanggal 1–7 Dzulhijjah
Puasa ini dilakukan pada tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hukumnya sunnah dan dapat dilakukan setiap hari atau dipilih hari-hari tertentu sesuai kemampuan.
2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan Dzulhijjah, sehari sebelum wukuf di Arafah. Puasa pada hari ini memiliki keutamaan yang disebutkan para ulama, meski sebagian menilai hadits khususnya lemah. Namun berpuasa pada hari ini tetap masuk dalam keumuman keutamaan puasa sepuluh hari Dzulhijjah.
3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Inilah puncak dari seluruh puasa Dzulhijjah. Puasa Arafah adalah yang paling utama dan sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” — HR. Muslim, no. 1162
Dua tahun dosa diampuni hanya dengan satu hari berpuasa — ini adalah karunia yang tidak ternilai.
Catatan Penting: Pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (Idul Adha dan Hari Tasyrik), puasa dilarang (haram) bagi seluruh umat Islam.
Niat Puasa Dzulhijjah (Lengkap & Benar)
Niat adalah ruh dari setiap ibadah. Ia diucapkan di dalam hati, dan melafalkannya secara lisan adalah sunnah menurut sebagian ulama untuk membantu memantapkan hati. Berikut adalah redaksi niat untuk masing-masing puasa:
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma syahri Dzil Hijjah sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma yaumit tarwiyati sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma yaumil ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
BACA JUGA: Memahami Risalah Qurban, Mulai dari Makna, Hukum, dan Keutamaannya
Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Dzulhijjah?
Ini adalah pertanyaan yang sering menimbulkan kebingungan. Berikut panduan ringkasnya:
- Puasa sunnah → Niat boleh diucapkan sejak malam hari hingga sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zuhur), selama belum ada yang membatalkan puasa sejak Subuh.
- Puasa wajib (seperti qadha Ramadan) → Niat wajib dilakukan sejak malam sebelum Subuh.
Mayoritas ulama mazhab Syafi’i menganjurkan agar niat puasa sunnah juga dilakukan sejak malam hari demi kehati-hatian dan kesempurnaan ibadah.
Tips Agar Puasa Dzulhijjah Lebih Bermakna
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan spiritual menuju Allah. Berikut beberapa amalan yang dapat melengkapi puasa Dzulhijjah Anda:
- Perbanyak dzikir dan takbir — terutama takbiran mutlak sejak 1 Dzulhijjah dan takbiran muqayyad setelah shalat fardhu mulai 9 Dzulhijjah.
- Baca Al-Quran lebih banyak — jadikan sepuluh hari ini sebagai momentum khatam atau minimal menambah bacaan harian.
- Perbanyak sedekah — amal kebaikan di hari-hari ini dilipatgandakan pahalanya.
- Jaga lisan dan perbuatan — puasa sejati adalah menahan diri dari hal-hal yang merusak nilai ibadah.
- Persiapkan hewan kurban — bagi yang mampu, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan.
Hubungan Puasa Dzulhijjah dan Kurban: Dua Sayap Ibadah
Puasa Dzulhijjah dan kurban adalah dua ibadah yang saling melengkapi di bulan yang sama. Jika puasa melatih keikhlasan batin kita kepada Allah, maka kurban melatih kelapangan hati untuk berbagi dengan sesama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” — QS. Al-Kautsar: 2
Ayat ini menggabungkan dua ibadah agung: shalat (yang mencerminkan hubungan vertikal dengan Allah) dan kurban (yang mencerminkan kasih sayang horizontal kepada sesama). Keduanya adalah bukti nyata keimanan seorang Muslim.
Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah meninggalkan kurban sejak disyariatkannya ibadah ini. Beliau bersabda:
“Siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” — HR. Ahmad dan Ibnu Majah
Kurban Bersama Yayasan Syekh Ali Jaber: Salurkan Cinta, Tebarkan Berkah
Melaksanakan kurban adalah perwujudan nyata dari semangat berbagi yang diajarkan Islam. Namun tidak semua dari kita memiliki kemampuan atau kemudahan untuk menyalurkannya secara langsung — dan di sinilah hadir Yayasan Syekh Ali Jaber sebagai mitra terpercaya Anda.
Almarhum Syekh Ali Jaber rahimahullah senantiasa menekankan pentingnya kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah dan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semangat beliau terus kami jaga dan lanjutkan.
Melalui program kurban Yayasan Syekh Ali Jaber, daging kurban Anda akan disalurkan kepada:
- Keluarga prasejahtera di pelosok negeri
- Daerah terpencil yang jarang tersentuh program kurban
- Komunitas yang membutuhkan kepedulian nyata dari sesama Muslim
Prosesnya mudah, amanahnya terjaga, dan dampaknya nyata.
🌙 Jangan Tunda Kebaikan — Berkurban Sekarang!
Bulan Dzulhijjah adalah tamu agung yang datang setahun sekali. Ia membawa kesempatan emas untuk melipatgandakan pahala — melalui puasa, dzikir, sedekah, dan kurban. Jangan sampai ia berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan dari kita.
Lengkapi ibadah Dzulhijjah Anda dengan berkurban bersama kami.
👉 Daftarkan kurban Anda sekarang di: yayasansyekhalijaber.com/qurban
Semoga Allah menerima setiap amalan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu rindu untuk berbuat kebaikan. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.




