Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga? Penjelasan Menurut Islam - Yayasan Syekh Ali Jaber

Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga? Penjelasan Menurut Islam

Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga Penjelasan Menurut Islam

Kucing merupakan salah satu hewan yang dekat dengan kehidupan manusia. Tingkah lakunya yang menggemaskan dan sifatnya yang terkadang manja membuat banyak orang menyayanginya seperti anggota keluarga sendiri.

Namun, pernahkah kita bertanya kenapa kucing tidak masuk surga, padahal hewan ini merupakan makhluk Allah yang juga berhak mendapatkan kasih sayang?

Pertanyaan tersebut sering muncul, terutama ketika seseorang kehilangan kucing kesayangannya. Tidak sedikit yang berharap dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaannya di akhirat.

Dalam Islam, nasib hewan setelah kematian telah dibahas melalui Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama. Untuk memahaminya, kita perlu mengetahui perbedaan antara kedudukan manusia dan hewan di hadapan Allah SWT.

Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga Menurut Islam?

Menurut penjelasan para ulama, kucing dan hewan lainnya tidak memasuki surga melalui proses perhitungan amal seperti manusia. Hal ini karena hewan tidak termasuk makhluk yang dibebani kewajiban syariat atau disebut mukallaf.

Mukallaf adalah makhluk yang memenuhi ketentuan untuk menerima kewajiban agama dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya.

Manusia diperintahkan beriman, melaksanakan ibadah, dan menjauhi larangan Allah. Sementara itu, kucing tidak memiliki kewajiban menjalankan salat, puasa, atau ibadah lainnya sebagaimana manusia.

Karena itulah, hewan tidak mendapatkan pahala dan dosa melalui perhitungan amal sebagaimana manusia.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hewan akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mendapatkan keadilan. Setelah itu, berdasarkan riwayat yang dijelaskan dalam kitab tafsir, hewan akan menjadi tanah.

Artinya, perbedaan nasib kucing dan manusia di akhirat bukanlah karena Allah membenci kucing, melainkan karena keduanya memiliki ketentuan yang berbeda.

Penjelasan ini juga dibahas oleh Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan dalam pembahasan mengenai kemungkinan bertemu kucing kesayangan di surga.

BACA JUGA: Cara Menghitung Jumlah Bayar Fidyah dengan Benar dan Contohnya

Apakah Kucing Akan Dibangkitkan pada Hari Kiamat?

Ya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa hewan juga akan dikumpulkan kepada Allah SWT. Kebangkitan hewan merupakan bagian dari keadilan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 38.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

Artinya

“Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am ayat 38)

Ayat ini menunjukkan bahwa hewan bukanlah makhluk yang luput dari pengetahuan dan kekuasaan Allah.

Hewan Juga Mendapatkan Keadilan

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keadilan Allah pada hari kiamat juga berlaku bagi hewan.

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

Artinya

“Sesungguhnya hak-hak akan diberikan kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga kambing yang tidak bertanduk mendapatkan keadilan dari kambing yang bertanduk.” (HR. Muslim nomor 2582, dari Abu Hurairah RA)

Hadis ini menggambarkan betapa sempurnanya keadilan Allah. Bahkan, perlakuan antara sesama hewan tidak diabaikan.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pembalasan di antara hewan tersebut bukanlah karena mereka dibebani kewajiban agama sebagaimana manusia, tetapi sebagai bentuk penegakan keadilan.

BACA JUGA: Arti Kun Fayakun dalam Al-Qur’an dan Maknanya bagi Kehidupan

Mengapa Hewan Dikatakan Menjadi Tanah di Akhirat?

Dalam penjelasan sejumlah ulama tafsir, hewan akan menjadi tanah setelah keadilan ditegakkan di antara mereka pada hari kiamat.

Pembahasan ini dikaitkan dengan Surah An-Naba ayat 40.

اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, ‘Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.'” (QS. An-Naba ayat 40)

Ayat ini menggambarkan penyesalan orang kafir ketika menyaksikan balasan atas perbuatannya.

Dalam Tafsir Ath-Thabari terdapat riwayat dari Abu Hurairah RA yang menjelaskan bahwa setelah hewan dikumpulkan, Allah memerintahkan mereka menjadi tanah. Keadaan tersebut menjadi salah satu penjelasan para mufasir terhadap keinginan orang kafir untuk menjadi tanah.

Penting dipahami bahwa ayat ini tidak secara langsung menyebut kucing. Penjelasan tentang hewan menjadi tanah berasal dari riwayat dan penafsiran ulama yang berkaitan dengan ayat tersebut.

Dengan demikian, pembahasan mengenai nasib hewan di akhirat harus didasarkan pada dalil, bukan sekadar cerita yang beredar di masyarakat.

Apakah Kita Bisa Bertemu Kucing Kesayangan di Surga?

Islam tidak memberikan kepastian khusus bahwa setiap orang akan bertemu kembali dengan kucing peliharaannya yang telah mati. Namun, Al-Qur’an menjelaskan bahwa penghuni surga mendapatkan kenikmatan sesuai dengan kehendak Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 35.

لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Artinya:

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.” (QS. Qaf ayat 35)

Ayat tersebut menjelaskan keluasan kenikmatan yang Allah sediakan bagi penghuni surga.

Oleh karena itu, seseorang boleh berharap kepada kemurahan Allah untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat, termasuk apabila ia merindukan hewan kesayangannya.

Meski demikian, harapan tersebut tidak boleh diubah menjadi kepastian bahwa kucing tertentu akan dihidupkan kembali dan dipertemukan dengan pemiliknya.

Hal yang lebih utama adalah berusaha menjadi hamba yang diridai Allah dengan menjalankan ibadah dan memperbanyak amal saleh.

BACA JUGA: 70 Ucapan untuk Orang Pergi Umrah yang Penuh Doa dan Menyentuh Hati

Islam Mengajarkan Kasih Sayang kepada Kucing

Meskipun nasib kucing di akhirat berbeda dengan manusia, Islam tetap mengajarkan umatnya untuk memperlakukan hewan dengan penuh kasih sayang.

Bahkan, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap tindakan menyiksa dan menelantarkan kucing.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda.

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا، فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خِشَاشِ الأَرْضِ

Artinya:

“Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Ia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya mencari makan dari hewan-hewan kecil di bumi.” (HR. Bukhari nomor 3318)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa menyakiti hewan bukanlah perkara sepele.

Sebaliknya, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa memberikan pertolongan kepada makhluk hidup dapat mendatangkan pahala.

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Artinya:

“Pada setiap makhluk hidup terdapat pahala (bagi yang berbuat baik kepadanya).” (HR. Bukhari nomor 2363)

Bentuk Kasih Sayang kepada Kucing dalam Kehidupan Sehari-hari

Berbuat baik kepada kucing tidak harus melalui tindakan besar. Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain

  • Memberikan makanan dan air minum yang layak.
  • Tidak menyakiti, memukul, atau mengurung kucing tanpa memenuhi kebutuhannya.
  • Menyediakan tempat yang aman bagi kucing peliharaan.
  • Membantu kucing yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan sesuai kemampuan.
  • Mengajarkan anak-anak agar memperlakukan hewan dengan lembut dan bertanggung jawab.

Perbuatan sederhana tersebut merupakan bagian dari ihsan, yaitu sikap berbuat baik dengan sungguh-sungguh terhadap sesama makhluk Allah.

BACA JUGA: Cara Membersihkan Madzi yang Benar Sesuai Syariat

Belajar dari Kasih Sayang kepada Hewan untuk Memperluas Kepedulian

Kasih sayang kepada kucing mengajarkan bahwa kepedulian tidak hanya ditunjukkan melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata.

Ketika seseorang tergerak memberikan makanan kepada hewan yang kelaparan, ia sedang belajar memahami kebutuhan makhluk lain.

Nilai kepedulian yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya dengan membantu anak yatim, mendukung pendidikan, atau meringankan kebutuhan keluarga dhuafa.

Salah satu bentuk kepedulian tersebut adalah sedekah.

Sedekah adalah pemberian atau tindakan kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas untuk mencari rida Allah SWT. Sedekah dapat berbentuk harta maupun kebaikan lain yang bermanfaat.

Melalui Yayasan Syekh Ali Jaber, nilai kepedulian ini diwujudkan dalam kegiatan pendidikan Al-Qur’an, dakwah, dan sosial.

Pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang arah pendidikan dan kepedulian yayasan juga dapat mengunjungi halaman Visi dan Misi Yayasan Syekh Ali Jaber.

Kebaikan kepada hewan dan kepedulian kepada sesama manusia bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat menjadi bagian dari upaya seorang muslim untuk menumbuhkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Kucing dan Surga

1. Apakah semua kucing akan menjadi tanah setelah hari kiamat?

Menurut penjelasan sejumlah ulama berdasarkan riwayat dalam kitab tafsir, hewan akan menjadi tanah setelah mendapatkan keadilan pada hari kiamat. Kucing termasuk dalam pembahasan umum mengenai hewan tersebut.

2. Apakah kucing memiliki dosa dan pahala seperti manusia?

Tidak. Kucing bukan makhluk mukallaf yang dibebani kewajiban ibadah sebagaimana manusia. Karena itu, hewan tidak menjalani perhitungan dosa dan pahala seperti manusia.

3. Apakah memberi makan kucing bisa mendapatkan pahala?

Ya. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa berbuat baik kepada makhluk hidup memiliki nilai pahala. Memberikan makanan atau air minum kepada kucing yang membutuhkan termasuk perbuatan baik.

4. Benarkah Nabi Muhammad SAW memiliki kucing bernama Muezza?

Kisah tentang kucing Rasulullah SAW bernama Muezza sangat populer, tetapi tidak ditemukan riwayat sahih yang membuktikannya. Hal ini juga dijelaskan oleh Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan dalam pembahasan mengenai kisah Muezza.

5. Apakah kucing bisa menolong pemiliknya masuk surga?

Tidak ditemukan dalil sahih yang secara khusus menyatakan bahwa kucing akan memberikan pertolongan kepada pemiliknya di akhirat. Namun, kebaikan manusia dalam merawat dan menyayangi hewan merupakan amal yang bernilai pahala di sisi Allah.

BACA JUGA: Hukum Menyimpan Barang yang Tidak Terpakai dalam Islam

Penutup

Pertanyaan kenapa kucing tidak masuk surga mengajarkan kita untuk memahami bahwa setiap makhluk memiliki kedudukan dan ketentuan yang berbeda di hadapan Allah SWT.

Menurut penjelasan para ulama, hewan tidak menjalani perhitungan amal sebagaimana manusia. Hewan akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mendapatkan keadilan, kemudian menjadi tanah sebagaimana diterangkan dalam sejumlah riwayat tafsir.

Namun, hal tersebut tidak mengurangi pentingnya menyayangi kucing dan memperlakukan seluruh makhluk hidup dengan baik.

Justru dari seekor kucing, kita dapat belajar tentang kelembutan, tanggung jawab, dan kepedulian.

Semoga kasih sayang yang kita tumbuhkan kepada makhluk Allah juga menggerakkan hati untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan.

Jika ingin memperluas manfaat dari kepedulian tersebut, mari mengambil bagian dalam kebaikan melalui program sedekah Yayasan Syekh Ali Jaber, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing.

Karena setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Bagikan :

6282260707044

Kirim Email

Donasi Sekarang