
Dalam Islam, kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan abadi. Inti dari hadist tentang kematian mengajarkan kita untuk memperbanyak mengingat “pemutus kelezatan” (maut) bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melembutkan hati yang keras dan memotivasi kita mengumpulkan bekal terbaik. Persiapan utamanya adalah taqwa, taubat nasuha, dan memperbanyak amal jariyah sebelum ajal menjemput.
Dalil & Dasar Hukum
Sebagai fondasi pembahasan, berikut adalah dalil shahih yang menjadi pedoman kita:
1. Hadist Tentang Memperbanyak Mengingat Mati
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).” (HR. At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah).
Penjelasan Singkat: Hadist ini adalah core (inti) dari manajemen hati seorang mukmin. “Pemutus kelezatan” bermakna bahwa mengingat mati akan mengerem ambisi duniawi yang berlebihan dan membuat kita fokus pada prioritas akhirat.
2. Tiga Perkara yang Mengikuti Mayit
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya: “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarganya dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penjelasan Singkat: Ini adalah peringatan keras namun penuh kasih sayang. Sehebat apapun karier atau sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, hanya amal sholeh yang menjadi teman setia di alam barzah.
Panduan Mempersiapkan Diri
Berdasarkan hadist tentang kematian di atas, bagaimana cara kita mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Berikut adalah langkah praktis (tata cara) mempersiapkan diri:
Langkah 1: Muhasabah Harian (Evaluasi Diri)
Jangan menunggu sakit untuk mengingat mati. Luangkan waktu 5-10 menit sebelum tidur untuk mengevaluasi dosa hari ini.
- Analogi: Bayangkan Anda adalah seorang musafir yang akan berangkat besok pagi. Sebelum tidur, Anda pasti mengecek koper Anda: “Apakah paspor sudah ada? Apakah bekal cukup?”. Muhasabah adalah proses “pengecekan koper” kita menuju akhirat.
Langkah 2: Segerakan Taubat, Jangan Menunda (Taswif)
Kematian seringkali datang tiba-tiba (baghtah).
- Jika memiliki hutang (baik harta maupun janji), segera lunasi atau catat dalam wasiat.
- Jika ada hak orang lain yang terambil, segera kembalikan.
- Minta maaf kepada orang tua dan keluarga.
Langkah 3: Diversifikasi Amal Jariyah
Seperti halnya investasi dunia, kita butuh “passive income” pahala yang terus mengalir walau kita sudah tiada. Hadist menyebutkan tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan.
Langkah 4: Menjaga Wudhu dan Dzikir
Usahakan selalu dalam keadaan suci. Jika malaikat maut datang saat kita sedang berdzikir atau dalam keadaan wudhu, insya Allah itu adalah tanda Husnul Khotimah.
BACA JUGA: Apa Saja Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan?
Freuquently Asked Question
Berikut adalah pertanyaan yang sering diajukan jamaah terkait topik ini:
Mengingat kematian berfungsi sebagai pengendali hawa nafsu. Saat kita ingat mati, masalah dunia terasa kecil dan semangat beribadah akan meningkat. Ini mencegah kita dari sifat sombong dan cinta dunia yang berlebihan.
Beberapa tanda husnul khotimah antara lain: mampu mengucapkan kalimat Syahadat (Laa ilaha illallah) di akhir hayat, meninggal pada hari Jumat, atau meninggal dalam keadaan beramal sholeh (seperti sedang shalat atau menuntut ilmu).
Tidak boleh. Rasulullah SAW melarang umatnya mengharapkan kematian karena musibah duniawi. Sebaiknya berdoa: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”
Investasi Akhirat Bersama Yayasan Syekh Ali Jaber
Sahabat sekalian, sebagaimana hadist yang telah kita bahas, harta yang hakiki adalah harta yang kita belanjakan di jalan Allah. Harta yang disimpan di bank akan kita tinggalkan, namun harta yang disedekahkan akan menjadi cahaya penerang di alam kubur.
Yayasan Syekh Ali Jaber mengajak Anda untuk mempersiapkan bekal terbaik melalui program Wakaf Al-Quran Braille dan Sedekah Jariyah untuk para penghafal Al-Quran.
Mari jadikan harta kita sebagai penolong di hari di mana tidak ada pertolongan selain dari Allah SWT.






