6 Hadist Tentang Puasa yang Mengungkap Keutamaan dan Pahala Tak Terhingga - Yayasan Syekh Ali Jaber

6 Hadist Tentang Puasa yang Mengungkap Keutamaan dan Pahala Tak Terhingga

6 Hadist Tentang Puasa yang Mengungkap Keutamaan dan Pahala Tak Terhingga

Puasa bukan sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak umat Islam menjalankan ibadah ini, namun belum sepenuhnya menyelami betapa besarnya ganjaran yang Allah siapkan. Melalui berbagai hadist tentang puasa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira mengenai kemuliaan orang-orang yang berpuasa.

Memahami landasan dalil ini sangat penting agar semangat kita dalam beribadah tidak mudah luntur. Dengan mengetahui janji Allah yang termaktub dalam sabda Nabi, kita akan menjalankan syariat ini dengan keimanan yang lebih kokoh. Berikut ini adalah ulasan mendalam mengenai dalil-dalil shahih yang membahas esensi dan keutamaan puasa.

Hadist Tentang Puasa

1. Puasa Sebagai Perisai dari Api Neraka

Salah satu fungsi utama puasa adalah sebagai pelindung bagi seorang mukmin. Rasulullah mengumpamakan puasa layaknya sebuah perisai yang digunakan prajurit dalam peperangan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Dalam konteks akhirat, puasa melindungi kita dari siksa api neraka.

Kita dapat menemukan rujukan mengenai hal ini dalam sebuah hadist tentang puasa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Hadits Rasulullah SAW:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Lafal Latin: Ash-shiyāmu junnah, falā yarfuts wa lā yajhal. Wa inimru-un qātalahū au syātamahū falyuqul: Innī shā-imum marratain.

Terjemahan: “Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata kotor dan berbuat bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencelanya, hendaklah dia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (dua kali).” (HR. Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151).

Dari dalil di atas, kita memahami bahwa puasa melatih pengendalian diri (self-control) yang kuat.

2. Bau Mulut Orang Berpuasa Lebih Harum dari Kasturi

Secara manusiawi, aroma mulut orang yang sedang berpuasa mungkin terasa tidak sedap karena kekosongan lambung. Namun, pandangan Allah berbeda dengan pandangan manusia. Allah menilai ketulusan hamba-Nya yang rela meninggalkan syahwat makan dan minum demi-Nya.

Rasulullah menjelaskan hal ini dalam kelanjutan hadist sebelumnya, yang menegaskan posisi hadist tentang puasa ini sebagai bukti cinta Allah kepada hamba-Nya:

Hadits Rasulullah SAW:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Lafal Latin: Walladzī nafsī biyadihī, lakhulūfu famish-shā-imi athyabu ‘indallāhi ta’ālā min rīhil-misk.

Terjemahan: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada harumnya minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1894).

3. Dua Kebahagiaan Bagi Orang yang Berpuasa

Seringkali kita merasa lelah saat menjalani hari-hari puasa, terutama saat cuaca terik. Namun, Rasulullah menjanjikan dua momen kebahagiaan yang pasti akan menghapus segala rasa lelah tersebut. Ini adalah motivasi spiritual yang sangat kuat bagi setiap Muslim.

Dalam sebuah riwayat yang membahas hadist tentang puasa, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Hadits Rasulullah SAW:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Lafal Latin: Lish-shā-imi farhatāni yafrahuhumā: Idzā afthara fariha, wa idzā laqiya Rabbahū fariha bishaumihī.

Terjemahan: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: Apabila dia berbuka, dia bahagia. Dan apabila dia bertemu Rabb-nya, dia bahagia karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kebahagiaan pertama bersifat duniawi saat melepaskan dahaga, sedangkan kebahagiaan kedua adalah kenikmatan ukhrawi yang tiada tara saat melihat ganjaran puasa di hadapan Allah.

4. Pintu Surga Khusus Bernama Ar-Rayyan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan ahli puasa dengan menyediakan fasilitas “VIP” di akhirat kelak. Surga memiliki delapan pintu, dan salah satunya dikhususkan hanya untuk mereka yang gemar berpuasa, baik puasa wajib maupun sunnah. Pintu ini bernama Ar-Rayyan.

Tidak ada yang boleh masuk melaluinya kecuali mereka yang berhak. Berikut adalah bunyi hadist tentang puasa terkait pintu Ar-Rayyan:

Hadits Rasulullah SAW:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

Lafal Latin: Inna fil jannati bāban yuqālu lahur-Rayyān, yadkhulu minhush-shā-imūna yaumal qiyāmati, lā yadkhulu minhu ahadun ghairuhum.

Terjemahan: “Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut Ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melaluinya.” (HR. Bukhari no. 1896).

BACA JUGA: Hadist Tentang Akhir Zaman dan Tanda-Tandanya yang Perlu Kita Renungkan

5. Doa Orang Berpuasa Tidak Akan Tertolak

Salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan doa adalah saat kita sedang menjalankan ibadah puasa, terutama menjelang waktu berbuka. Banyak umat Islam yang melewatkan momen emas ini karena sibuk mempersiapkan hidangan berbuka. Padahal, Rasulullah memberikan jaminan bahwa doa mereka sangat mustajab.

Dalam riwayat Tirmidhi yang juga menjadi rujukan penting dalam hadist tentang puasa, disebutkan:

Hadits Rasulullah SAW:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Lafal Latin: Tsalātsatun lā turaddu da’watuhum: Ash-shā-imu hattā yufthira, wal imāmul ‘ādilu, wa da’watul mazhlūm.

Terjemahan: “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Tirmidhi no. 3598).

Hadist ini mengajarkan kita untuk memperbanyak munajat dan permohonan kebaikan dunia akhirat selama kita dalam kondisi berpuasa.

6. Menghapus Dosa yang Telah Lalu

Khusus untuk puasa Ramadhan, Allah memberikan bonus luar biasa berupa pengampunan dosa (maghfirah). Syarat utamanya adalah iman dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah).

Hadits Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Lafal Latin: Man shāma Ramadhāna īmānan wahtisāban ghufira lahū mā taqaddama min dzanbihī.

Terjemahan: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Sempurnakan Ibadah dengan Sedekah

Sahabat yang dirahmati Allah, setelah kita menyelami berbagai hadist tentang puasa di atas, kita menyadari bahwa hakikat ibadah ini adalah menahan diri dan menumbuhkan empati. Rasa lapar yang kita rasakan seharusnya mengingatkan kita pada saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan makanan setiap harinya.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat saat bulan Ramadhan. Maka, alangkah indahnya jika kita menyempurnakan ibadah puasa kita dengan menyisihkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.

Melalui Yayasan Syekh Ali Jaber, Anda dapat menyalurkan sedekah, infaq, dan wakaf untuk mendukung program para penghafal Al-Qur’an dan kegiatan sosial keumatan lainnya. Ini adalah kesempatan emas untuk menjadikan harta Anda sebagai bekal abadi di akhirat.

SEDEKAH SEKARANG

Bagikan :

6282260707044

Kirim Email

Donasi Sekarang