
Pernahkah Anda merasa sedih yang teramat dalam, hingga rasanya dunia begitu sempit? Rasulullah SAW pun pernah merasakannya.
Bahkan, sebelum peristiwa Isra Mi’raj terjadi, Nabi Muhammad SAW berada dalam fase ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau kehilangan dua sosok pelindung utamanya: sang paman, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah RA.
Di tengah kesedihan itulah, Allah SWT menghibur kekasih-Nya dengan sebuah perjalanan luar biasa yang tak masuk akal manusia, namun nyata bagi iman. Berikut adalah rangkuman kisah Isra Mi’raj yang menjadi tonggak sejarah penting bagi kita umat Islam, khususnya dalam kewajiban mendirikan shalat.
Awal Mula Perjalanan Suci (Isra)
Peristiwa ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…” (QS. Al-Isra: 1)
Dalam rangkuman kisah Isra Mi’raj ini, perjalanan dibagi menjadi dua fase utama. Fase pertama disebut Isra, yaitu perjalanan horizontal di bumi.
-
Kendaraan Buraq: Malaikat Jibril datang membawa Buraq, hewan putih yang langkah kakinya sejauh pandangan mata.
-
Rute Perjalanan: Rasulullah SAW berangkat dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina) dalam waktu yang sangat singkat.
-
Imam Para Nabi: Sesampainya di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW memimpin shalat berjamaah yang makmumnya adalah ruh para Nabi terdahulu. Ini adalah simbol bahwa risalah Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna risalah sebelumnya.
Mi’raj: Menembus Tujuh Langit Menuju Sidratul Muntaha
Fase kedua adalah Mi’raj, yaitu perjalanan vertikal dari bumi naik menembus langit ke-7 hingga ke Sidratul Muntaha.
Di setiap lapisan langit, Rasulullah SAW disambut dengan hangat oleh para Nabi pendahulu:
-
Langit Pertama: Bertemu Nabi Adam AS.
-
Langit Kedua: Bertemu Nabi Isa AS dan Yahya AS.
-
Langit Ketiga: Bertemu Nabi Yusuf AS.
-
Langit Keempat: Bertemu Nabi Idris AS.
-
Langit Kelima: Bertemu Nabi Harun AS.
-
Langit Keenam: Bertemu Nabi Musa AS.
-
Langit Ketujuh: Bertemu Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar di Baitul Makmur.
Puncak dari perjalanan ini adalah ketika Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha, sebuah tempat tertinggi yang tak bisa ditembus oleh makhluk lain, bahkan Malaikat Jibril sekalipun berhenti di batas tertentu.
Oleh-Oleh Terindah: Perintah Shalat 5 Waktu
Inilah inti dari rangkuman kisah Isra Mi’raj yang wajib kita renungkan. Di Sidratul Muntaha, Allah SWT memberikan perintah secara langsung tanpa perantara malaikat.
Awalnya, Allah mewajibkan shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS ketika Rasulullah turun, Nabi Muhammad SAW kembali menghadap Allah berkali-kali untuk memohon keringanan (diskoneksi kasih sayang) bagi umatnya yang lemah.
-
Hasil Akhir: Allah menetapkan kewajiban shalat menjadi 5 waktu saja.
-
Pahala Berlipat: Meski jumlahnya 5, Allah menjanjikan pahala yang setara dengan 50 kali shalat bagi siapa yang menjaganya dengan ikhlas.
Sebagaimana sering disampaikan oleh Almarhum Syekh Ali Jaber, shalat adalah tiang agama dan kunci keberkahan hidup. “Jaga shalatmu, maka Allah akan menjaga duniamu,” begitu pesan beliau yang selalu kita ingat.
Hikmah Isra Mi’raj bagi Kehidupan Kita
Sahabat Syekh Ali Jaber yang dirahmati Allah, kisah ini bukan dongeng semata. Ada pelajaran mahal yang bisa kita bawa pulang:
-
Shalat adalah Miraj-nya Orang Mukmin: Jika kita sedang sedih atau punya masalah, “naiklah” menemui Allah lewat shalat. Shalat adalah sarana komunikasi langsung kita dengan Sang Pencipta.
-
Ujian Pasti Ada Hadiahnya: Setelah Amul Huzn (kesedihan), Allah beri Isra Mi’raj (kemuliaan). Setelah kesulitan hidup yang kita alami, yakinlah Allah siapkan kemudahan.
-
Pentingnya Masjidil Aqsa: Peristiwa ini mengingatkan kita akan ikatan suci antara Makkah dan Palestina. Mencintai Al-Aqsa adalah bagian dari iman.
Penutup
Peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian dalam kesedihan. Oleh-oleh shalat 5 waktu adalah bukti cinta Allah agar kita selalu punya tempat untuk “pulang” dan mengadu.
Mari kita perbaiki kualitas shalat kita, sebagaimana Rasulullah memperjuangkannya di Sidratul Muntaha untuk kita.
Ingin pahala jariyah mengalir deras seperti shalat yang terus didirikan? Mari dukung program pendidikan para penghafal Al-Qur’an bersama Yayasan Syekh Ali Jaber. Sedekah Anda adalah cahaya bagi masa depan mereka.






