Hadits Tentang Fitnah, Bahaya Lisan yang Lebih Kejam dari Pembunuhan - Yayasan Syekh Ali Jaber

Hadits Tentang Fitnah, Bahaya Lisan yang Lebih Kejam dari Pembunuhan

Hadits Tentang Fitnah, Bahaya Lisan yang Lebih Kejam dari Pembunuhan

Di era digital saat ini, jari terkadang bisa lebih tajam daripada pedang. Informasi begitu cepat menyebar di media sosial, dan tanpa sadar, kita mungkin pernah ikut andil dalam menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

Sahabat Syekh Ali Jaber yang dirahmati Allah, hadist tentang fitnah bukan sekadar peringatan kuno, melainkan rem pakem untuk kita di zaman modern ini. Fitnah bisa merusak persaudaraan (ukhuwah), menghancurkan kehormatan seseorang, bahkan memecah belah umat yang seharusnya bersatu di bawah naungan Al-Quran.

Lantas, bagaimana Rasulullah SAW dan Al-Quran memandang perilaku ini? Dan bagaimana kita menjaga diri agar tidak menjadi golongan orang yang bangkrut di akhirat karena lisan?

Apa Itu Fitnah dalam Pandangan Islam?

Sebelum membahas dalil lebih jauh, kita perlu meluruskan makna “fitnah”. Dalam bahasa Indonesia, fitnah sering diartikan sebagai menuduh tanpa bukti. Namun, dalam Al-Quran, kata Al-Fitnah sering merujuk pada “ujian”, “cobaan”, atau “kemusyrikan”.

Meski demikian, apa yang kita kenal sebagai “fitnah” (menuduh/mengadu domba) dalam istilah agama disebut dengan Namimah (adu domba) dan Buhtan (tuduhan dusta). Kedua perilaku ini adalah dosa besar yang sangat dibenci Allah SWT.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 191:

“Wal-fitnatu asyaddu minal-qatl”

Artinya: “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”

Ayat ini menegaskan bahwa dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh fitnah (kekacauan/kemusyrikan) jauh lebih besar dan luas dampaknya daripada sekadar menghilangkan nyawa.

Hadits Tentang Fitnah dan Ancaman Bagi Pelakunya

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi mereka yang gemar menyebarkan berita bohong atau mengadu domba. Berikut adalah beberapa hadits shahih yang perlu kita renungkan:

1. Tidak Masuk Surga Bagi Pengadu Domba

Seringkali fitnah bermula dari keinginan mengadu domba antar saudara. Rasulullah SAW bersabda:

“Laa yadkhulul jannata qattaat.”

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (namimah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah teguran keras. Sehebat apapun ibadah kita, jika lisan kita aktif memecah belah persaudaraan di Yayasan, di kantor, atau di keluarga, surga menjadi haram bagi kita.

2. Orang Muslim adalah Saudara yang Menjaga Lisan

Syekh Ali Jaber semasa hidupnya selalu menekankan pentingnya menjadi “Muslim sejati”. Beliau sering mengutip hadits ini:

“Al-muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi.”

Artinya: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat (merasa aman) dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Jika ketikan komentar atau status kita di media sosial membuat orang lain sakit hati atau terfitnah, maka kualitas keislaman kita perlu dipertanyakan.

3. Bahaya Menjadi Orang yang “Bangkrut” (Muflis)

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah bertanya kepada sahabat tentang siapa orang yang bangkrut. Ternyata, orang bangkrut bukanlah yang tidak punya uang, melainkan:

  • Orang yang datang di hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat.

  • TAPI, dia juga datang dengan dosa mencaci maki, menuduh (fitnah), memakan harta orang, dan menumpahkan darah.

  • Akhirnya, pahala kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang yang dizalimi hingga habis, lalu ia dilemparkan ke neraka.

BACA JUGA: Doa Keluar Kamar Mandi, Bacaan Lengkap & Hikmah Kesehatan di Baliknya

Bagaimana Cara Menghindari Fitnah di Zaman Now?

Belajar dari keteladanan Almarhum Syekh Ali Jaber yang selalu lembut dan berhati-hati dalam bicara, berikut adalah langkah praktis yang bisa kita lakukan:

Terapkan Tabayyun (Cek dan Ricek)

Jangan mudah menyebarkan tombol “Share” atau “Forward” di WhatsApp sebelum memastikan kebenarannya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun)…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Diam adalah Emas

Jika informasi tersebut benar sekalipun, tanyakan pada hati nurani: “Apakah menyebarkan ini membawa manfaat atau justru membuka aib saudara saya?” Jika tidak bermanfaat, lebih baik diam.

Sibukkan Diri dengan Al-Quran

Orang yang sibuk dengan Al-Quran, seperti para santri penghafal Quran di Yayasan Syekh Ali Jaber, tidak akan punya waktu untuk mengurusi aib orang lain. Lisan yang basah dengan dzikir akan kaku jika diajak berbuat maksiat.

Mari Jaga Ukhuwah

Sahabat, hadist tentang fitnah mengajarkan kita bahwa integritas seorang Muslim terletak pada kejujuran dan kemampuannya menahan lisan. Jangan sampai jari-jari kita menjadi sebab kita tergelincir ke dalam api neraka.

Mari kita lanjutkan perjuangan Syekh Ali Jaber dengan menebar kedamaian, bukan kebencian. Jadikan media sosial kita sebagai ladang dakwah yang menyejukkan.

Ingin ikut serta melahirkan generasi penjaga Al-Quran yang berakhlak mulia dan jauh dari perilaku fitnah?

Mari dukung program pendidikan para santri penghafal Quran di Yayasan Syekh Ali Jaber. Sedekah Anda adalah cahaya bagi masa depan mereka.

SEDEKAH SEKARANG

Bagikan :

6282260707044

Kirim Email

Donasi Sekarang