Bacaan Tahiyat Akhir yang Benar Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW - Yayasan Syekh Ali Jaber

Bacaan Tahiyat Akhir yang Benar Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

Bacaan Tahiyat Akhir yang Benar Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

Tahiyat akhir adalah penutup dari seluruh rangkaian gerakan dan bacaan dalam sholat. Duduk terakhir sebelum salam ini bukan sekadar jeda, melainkan momen di mana seorang hamba mengucapkan penghormatan kepada Allah, mengirim salam kepada Rasulullah SAW, lalu menutupnya dengan syahadat dan sholawat. Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang hafal bacaannya secara turun temurun tanpa benar benar memahami maknanya atau memastikan lafalnya sudah sesuai sunnah. Artikel ini menjelaskan bacaan tahiyat akhir yang benar secara lengkap, mulai dari lafal Arab, arti, dalil, hingga tata cara duduk yang tepat.

Apa Itu Tahiyat Akhir dalam Sholat

Tahiyat akhir adalah bacaan yang dilafalkan pada duduk terakhir sebelum salam, berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi Muhammad SAW, dua kalimat syahadat, dan sholawat Ibrahimiyah. Bacaan ini menjadi salah satu rukun sholat menurut mayoritas ulama, termasuk mazhab Syafii, sehingga jika ditinggalkan maka sholat dianggap tidak sah.

Berbeda dengan tahiyat awal yang hanya dibaca sampai kalimat sholawat pendek, tahiyat akhir dibaca lebih panjang karena ditambah sholawat Ibrahimiyah dan dianjurkan pula doa perlindungan sebelum salam. Tahiyat akhir dilakukan setelah sujud kedua pada rakaat terakhir. Pada sholat Subuh yang dua rakaat, tahiyat akhir jatuh di rakaat kedua. Pada sholat Maghrib yang tiga rakaat, tahiyat akhir dibaca di rakaat ketiga. Sedangkan pada sholat Zuhur, Ashar, dan Isya yang empat rakaat, tahiyat akhir dibaca di rakaat keempat.

Bacaan Tahiyat Akhir Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Bacaan tahiyat akhir yang benar terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bacaan tasyahud, sholawat kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, serta doa perlindungan sebelum salam. Berikut lafal lengkapnya.

Bacaan Tasyahud

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu alainaa wa alaa ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah.

Artinya, “Segala penghormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah pula kepada kami dan hamba hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Bacaan Sholawat Ibrahimiyah

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allaahumma shalli alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad, kamaa shallaita alaa Ibraahiim wa alaa aali Ibraahiim. Wa baarik alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad, kamaa baarakta alaa Ibraahiim wa alaa aali Ibraahiim, fil aalamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh alam.”

Perintah bersholawat ini bersumber langsung dari Al Quran. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ahzab ayat 56 yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Doa Perlindungan Sebelum Salam

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Allaahumma innii auudzu bika min adzaabi jahannam, wa min adzaabil qabri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal.

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al Masih Dajjal.”

Doa ini bukan bagian wajib dari tahiyat akhir, namun sangat dianjurkan karena diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Setelah membaca doa ini, sholat ditutup dengan salam ke kanan dan ke kiri.

BACA JUGA: Baca Doa Ini Saat Menyembelih Ayam dan Raih Keberkahannya

Dalil dan Sumber Bacaan Tahiyat Akhir

Bacaan tahiyat akhir bersumber dari hadits shahih, bukan susunan yang dibuat ulama belakangan. Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW mengajarkan tasyahud kepadanya sebagaimana beliau mengajarkan surat Al Quran, lalu beliau membacakan lafal tasyahud tersebut (HR Bukhari nomor 6265 dan Muslim nomor 402). Hadits inilah yang menjadi rujukan utama seluruh ulama dalam menetapkan lafal tasyahud yang dibaca umat Islam hingga kini.

Adapun posisi duduk saat tahiyat akhir dikenal dengan istilah duduk tawarruk, yaitu pantat menempel ke lantai, kaki kiri diselipkan di bawah betis kanan, dan kaki kanan ditegakkan dengan jari kaki menghadap kiblat. Posisi ini berbeda dari duduk tahiyat awal yang menggunakan posisi iftirasy. Dari Abu Humaid As Saidi, disebutkan bahwa Nabi SAW duduk di atas kaki kiri pada tasyahud pertama, namun pada tasyahud terakhir beliau menjulurkan kaki kiri ke satu sisi dan duduk bertumpu pada tempat duduknya (HR Bukhari nomor 828). Tangan kanan diletakkan di atas paha kanan dengan jari telunjuk diacungkan saat mengucap kalimat syahadat, sementara tangan kiri terbuka di atas paha kiri.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Tahiyat Akhir

Memahami bacaan yang benar juga berarti menghindari kekeliruan yang umum terjadi. Berikut beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan.

  • Tergesa gesa membaca tanpa memahami arti, sehingga sholat terasa hampa dari kekhusyukan.
  • Melewatkan sholawat Ibrahimiyah dan langsung salam, padahal bacaan ini bagian dari tuntunan lengkap yang diajarkan Nabi SAW.
  • Salah posisi duduk, misalnya tetap menggunakan duduk iftirasy padahal seharusnya tawarruk.
  • Menggerakkan jari telunjuk secara berlebihan, padahal yang disunnahkan adalah mengacungkannya dengan tenang sambil memandang ke arah jari tersebut.

Menghayati Makna Tahiyat Akhir dalam Kehidupan Sehari hari

Bacaan tahiyat akhir sesungguhnya mengajarkan tiga hal besar sekaligus, yaitu pengakuan atas keesaan Allah, kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan permohonan perlindungan dari keburukan dunia serta akhirat. Ketiganya bukan sekadar kalimat yang diucapkan lisan, melainkan nilai yang idealnya membekas dalam sikap sehari hari. Seorang yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah semestinya juga menunjukkan ketundukan itu lewat kepeduliannya kepada sesama, sebagaimana para sahabat Nabi yang dikenal dermawan setelah memahami betul makna sholat mereka.

Salah satu wujud nyata dari ketundukan itu adalah sedekah. Sedekah adalah pemberian harta secara ikhlas kepada orang yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan duniawi, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah titipkan. Jika tahiyat akhir menutup sholat dengan permohonan perlindungan dari kesulitan hidup dan akhirat, maka sedekah adalah langkah nyata untuk turut meringankan kesulitan orang lain yang sedang diuji dengan keterbatasan.

Pertanyaan Seputar Bacaan Tahiyat Akhir

Apakah tahiyat akhir wajib dibaca dalam sholat?

Ya, tahiyat akhir termasuk rukun sholat menurut mayoritas ulama. Jika sengaja ditinggalkan, sholat menjadi tidak sah dan harus diulang.

Apa perbedaan tahiyat awal dan tahiyat akhir?

Tahiyat awal hanya dibaca sampai kalimat syahadat dan sholawat pendek kepada Nabi Muhammad, sedangkan tahiyat akhir dilanjutkan dengan sholawat Ibrahimiyah yang lebih lengkap dan doa perlindungan sebelum salam.

Bolehkah tidak membaca doa perlindungan sebelum salam?

Boleh, karena doa tersebut hukumnya sunnah bukan wajib. Namun sangat dianjurkan karena diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat.

Bagaimana posisi duduk yang benar saat tahiyat akhir?

Posisi yang dianjurkan adalah duduk tawarruk, yaitu pantat menempel lantai, kaki kiri diselipkan di bawah kaki kanan, dan kaki kanan ditegakkan.

Apakah lafal tahiyat akhir sama di semua mazhab?

Terdapat sedikit perbedaan riwayat lafal antar mazhab karena bersumber dari jalur hadits yang berbeda, namun makna dan intinya sama. Lafal riwayat Ibnu Masud seperti di atas adalah yang paling masyhur digunakan umat Islam di Indonesia.

Penutup

Bacaan tahiyat akhir yang benar bukan sekadar hafalan yang diucapkan cepat menjelang salam, melainkan penutup sholat yang sarat makna ketundukan, kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan permohonan perlindungan dari Allah. Semakin kita memahami maknanya, semakin terasa pula bagaimana sholat membentuk kepedulian kita kepada sesama di luar waktu sholat itu sendiri.

Seperti halnya doa perlindungan yang kita panjatkan di penghujung sholat, banyak saudara kita yang juga sedang berjuang melewati kesulitan hidup dan membutuhkan uluran tangan. Yuk salurkan sedekah terbaik Anda melalui yayasansyekhalijaber.com/sedekah dan jadi bagian dari ikhtiar meringankan beban mereka yang membutuhkan.

Bagikan :

6282260707044

Kirim Email

Donasi Sekarang