
Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia memperingati hari kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Namun tidak banyak yang tahu bahwa tradisi ini punya perjalanan sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Artikel ini akan mengulas sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap, mulai dari kapan tradisi ini pertama kali muncul, siapa yang memprakarsainya, bagaimana pandangan para ulama, hingga bagaimana perayaan ini berakulturasi dengan budaya Nusantara.
Apa Itu Maulid Nabi Muhammad SAW?
Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Kata “maulid” berasal dari bahasa Arab yang berarti “kelahiran”.
Peringatan ini pada mulanya bukan bagian dari ajaran yang diwariskan langsung oleh Nabi maupun para sahabat. Ia lahir belakangan sebagai ekspresi cinta umat kepada Rasulullah, lalu berkembang menjadi tradisi keagamaan dan budaya yang diwarnai pembacaan sirah nabawiyah, salawat, dan pengajian.
Kapan dan Di Mana Nabi Muhammad SAW Dilahirkan?
Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan tahun 571 Masehi yang dikenal sebagai Tahun Gajah.
Sebutan Tahun Gajah merujuk pada peristiwa penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah pimpinan Raja Abrahah dari Yaman, yang gagal total karena serangan burung Ababil sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Fil. Peristiwa besar ini terjadi pada tahun yang sama dengan kelahiran Rasulullah, sehingga tahun tersebut diabadikan sebagai penanda waktu penting dalam sejarah Arab.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap dari Masa ke Masa
Sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap mencatat bahwa tradisi ini tidak muncul serentak, melainkan berkembang bertahap melalui beberapa fase dan tokoh penting selama berabad-abad setelah Rasulullah wafat.
Awal Kemunculan pada Masa Dinasti Fatimiyah
Menurut sejarawan Al-Maqrizi dalam kitab Al-Khathat, perayaan Maulid mulai dikenal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-4 Hijriah atau abad ke-10 Masehi, dengan khalifah Al-Mu’izz li Dinillah yang berkuasa sekitar tahun 341-365 Hijriah disebut sebagai penguasa pertama yang mengadakan perayaan ini.
Dinasti Fatimiyah yang berhaluan Syiah Ismailiyah tidak hanya merayakan Maulid Nabi Muhammad, tetapi juga memperingati hari lahir tokoh keluarga Nabi lainnya, seperti Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Fatimah, hingga Maulid Hasan dan Husain. Perayaan pada masa ini biasanya diwarnai pembagian makanan, gula, dan hadiah kepada masyarakat serta pejabat istana.
Riwayat Khaizuran di Madinah dan Makkah
Sumber sejarah lain, yakni kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa karya Nuruddin Ali, mencatat riwayat berbeda yang lebih tua. Dikisahkan, Khaizuran, ibu dari dua Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid, memerintahkan penduduk Madinah untuk mengadakan perayaan kelahiran Nabi di Masjid Nabawi sekitar tahun 170 Hijriah atau 786 Masehi. Perintah serupa juga ia sampaikan kepada penduduk Makkah, meski dilakukan di rumah masing-masing, bukan di masjid.
Peran Sultan Al-Muzhaffar Abu Sa’id di Irbil
Sejarawan klasik seperti Ibnu Khallikan, Ibnu Katsir, dan Imam As-Suyuti sepakat menyebut Sultan Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukburi, penguasa Irbil di Irak, sebagai tokoh yang pertama kali merayakan Maulid secara masyhur dan besar-besaran pada tahun 630 Hijriah.
Dalam perayaannya, Sultan Al-Muzhaffar mengundang para ulama, ahli tasawuf, qari, dan seluruh rakyatnya. Ia menyediakan hidangan, membagikan hadiah, dan yang menarik, ia juga menyalurkan sedekah kepada fakir miskin sebagai bagian dari rangkaian perayaan tersebut.
Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dan Semangat Jihad
Teori lain menyebut Sultan Salahuddin Al-Ayyubi sebagai tokoh yang menghidupkan kembali perayaan Maulid pada tahun 579 Hijriah atau 1183 Masehi, atas usulan iparnya, Muzaffaruddin Gekburi.
Tujuannya adalah membangkitkan semangat juang dan persatuan umat Islam di tengah Perang Salib, sekaligus mengimbangi maraknya perayaan hari besar umat Nasrani pada masa itu. Dari sayembara penulisan kisah kehidupan Nabi yang digagas pada masa ini, lahir karya sastra yang dikenal luas hingga sekarang, yaitu Kitab Al-Barzanji, yang masih dibaca dalam banyak perayaan Maulid di Nusantara.
Pandangan Ulama tentang Hukum Maulid Nabi
Hukum merayakan Maulid Nabi masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama hingga hari ini. Sebagian menilainya sebagai bid’ah yang dilarang, sementara sebagian lain memperbolehkannya sebagai bid’ah hasanah selama diisi dengan amalan yang sesuai syariat.
Pendapat yang Menilai Bid’ah
Ulama seperti Ibnu Taimiyah dan sebagian ulama klasik lain, termasuk Tajuddin Al-Fakihani, berpandangan bahwa perayaan Maulid tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, para sahabat, maupun tiga generasi salaf terbaik sehingga dianggap sebagai perkara baru dalam agama.
Pendapat yang Membolehkan sebagai Bid’ah Hasanah
Di sisi lain, Imam Jalaluddin Al-Suyuti dalam kitabnya Husnul Maqsid fi Amalil Maulid menyatakan bahwa Maulid termasuk amalan yang baik selama diisi kegiatan yang sesuai ajaran Islam, seperti pembacaan Al-Qur’an, salawat, dan pengajian.
Pandangan ini merujuk pada semangat memuliakan dan mencintai Rasulullah SAW yang memang diperintahkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 21)
Allah juga menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam dalam surat Al-Anbiya ayat 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 107)
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
Di Indonesia, tradisi Maulid Nabi diperkenalkan oleh Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi sebagai bagian dari strategi dakwah yang mengakulturasikan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Peran Wali Songo dalam Penyebaran Tradisi
Wali Songo memanfaatkan momentum Maulid Nabi untuk menarik hati masyarakat memeluk Islam tanpa menghilangkan kearifan budaya setempat. Karena itu pula perayaan ini di beberapa daerah dikenal dengan nama “Syahadatin”.
Sekaten, Gerebeg Maulud, dan Maudu Lompoa
Akulturasi ini melahirkan beragam tradisi khas Nusantara yang masih lestari hingga sekarang, di antaranya
- Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta, berupa rangkaian upacara adat keraton
- Gerebeg Maulud di Jawa, ditandai dengan arak-arakan gunungan hasil bumi
- Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan, sebagai bentuk syukur masyarakat atas kelahiran Rasulullah
Di banyak majelis, pembacaan kitab Maulid seperti Al-Barzanji, Ad-Diba’i, atau Simtudduror karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi menjadi bagian tidak terpisahkan dari acara ini, diselingi lantunan salawat dan tausiyah tentang akhlak Nabi.
Semangat Sedekah dalam Peringatan Maulid Nabi
Jika ditelusuri, semangat berbagi selalu hadir dalam setiap catatan sejarah perayaan Maulid Nabi. Sultan Al-Muzhaffar tercatat membagikan hidangan dan sedekah kepada fakir miskin, sementara perayaan di masa Dinasti Fatimiyah pun diwarnai pembagian makanan bagi masyarakat luas.
Hal ini sejalan dengan salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan hidup Rasulullah SAW, yaitu kepedulian terhadap sesama, terutama kaum dhuafa dan anak yatim. Rasulullah SAW bersabda
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)
Meneladani Rasulullah SAW bukan hanya soal mengenang kisah kelahirannya, tetapi juga menghidupkan kembali akhlak dan kepeduliannya dalam kehidupan sehari-hari. Momen Maulid Nabi bisa menjadi pengingat yang tepat untuk kembali menghadirkan kepedulian itu, misalnya dengan menyisihkan sebagian rezeki bagi mereka yang membutuhkan.
FAQ Seputar Sejarah Maulid Nabi
Kapan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali dirayakan?
Menurut catatan Al-Maqrizi, perayaan Maulid pertama kali dikenal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-10 Masehi, meski ada pula riwayat yang menyebut tradisi ini sudah dilakukan di Madinah pada tahun 170 Hijriah.
Siapa yang pertama kali mempopulerkan Maulid Nabi secara besar-besaran?
Mayoritas sejarawan Islam seperti Ibnu Katsir dan As-Suyuti sepakat menyebut Sultan Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukburi, penguasa Irbil di Irak, sebagai tokoh yang mempopulerkan perayaan Maulid secara masyhur pada tahun 630 Hijriah.
Apakah merayakan Maulid Nabi termasuk bid’ah?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian menilainya sebagai bid’ah yang tidak dianjurkan karena tidak dicontohkan Nabi dan sahabat, sementara sebagian lain seperti Imam As-Suyuti memperbolehkannya sebagai bid’ah hasanah selama diisi dengan kegiatan yang sesuai syariat.
Bagaimana tradisi Maulid Nabi berkembang di Indonesia?
Tradisi ini dibawa oleh Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi dan berakulturasi dengan budaya lokal, melahirkan tradisi seperti Sekaten, Gerebeg Maulud, dan Maudu Lompoa.
Apa saja kitab yang biasa dibaca saat peringatan Maulid Nabi?
Kitab yang umum dibaca antara lain Al-Barzanji, Ad-Diba’i, dan Simtudduror, yang berisi kisah kelahiran serta keteladanan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Penutup
Menelusuri sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap membawa kita pada satu benang merah yang sama, yaitu kecintaan umat kepada Rasulullah yang diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk kepedulian terhadap sesama. Semangat berbagi yang hadir dalam catatan sejarah Maulid sejak berabad-abad lalu kiranya bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk terus menghidupkan nilai itu di masa sekarang.
Sahabat, momen mengenang kelahiran Rasulullah SAW ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali akhlak beliau dalam bentuk nyata, salah satunya lewat sedekah. Yuk, salurkan kepedulian sahabat melalui yayasansyekhalijaber.com/sedekah dan jadi bagian dari jejak kebaikan yang terus mengalir.




