
Saat terjadi gempa bumi, dianjurkan membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika melihat fenomena alam yang menakutkan: “Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma fiha wa khaira ma ursilat bihi, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma fiha wa syarri ma ursilat bihi.” Selain berdoa, segera cari tempat perlindungan yang aman, perbanyak istighfar, dan hindari kepanikan berlebih karena ketenangan adalah kunci keselamatan.
Dalil dan Dasar Hukum: Mengapa Kita Harus Berdoa?
Bencana alam, termasuk gempa bumi, adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Dalam pandangan Islam, ini bukan sekadar fenomena geologis, melainkan pengingat (tadzkiroh) bagi hamba-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti (agar mereka bertaubat).” (QS. Al-Isra: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa gempa adalah sarana agar kita kembali mengingat Allah. Oleh karena itu, respon pertama seorang mukmin bukanlah berteriak histeris, melainkan mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Bumi.
Bacaan Doa Ketika Gempa Bumi dan Artinya
Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar, menganjurkan kita membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Meskipun asalnya doa ini dibaca Rasulullah saat angin kencang, para ulama mengqiyaskan (menyamakan hukumnya) untuk bencana alam lain seperti gempa bumi, karena keduanya adalah kiriman Allah.
Berikut lafalnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
Latin: Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma fiha wa khaira ma ursilat bihi, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma fiha wa syarri ma ursilat bihi.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan apa yang ada di dalamnya, dan keburukan atas apa yang Engkau kirimkan dengannya.” (HR. Muslim)
Adab dan Sikap Muslim Saat Menghadapi Gempa
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, membaca doa saja belum cukup. Kita perlu menyelaraskan lisan dengan perbuatan (ikhtiar). Ibarat kita sedang menaiki perahu yang diterjang ombak, berdoa adalah pegangan hati, namun tangan kita harus tetap memegang kendali agar tidak jatuh.
Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:
1. Tenangkan Hati, Jangan Mencela Angin/Bumi
Rasulullah melarang kita mencela fenomena alam. Jangan mengumpat. Alih-alih berteriak ketakutan, ubahlah teriakan itu menjadi kalimat thayyibah seperti Laa ilaaha illallah atau Allahu Akbar. Ini akan menstimulasi otak untuk berpikir jernih dan mengurangi kepanikan massal.
2. Segera Mencari Perlindungan (Ikhtiar Fisik)
Islam sangat menghargai nyawa (hifz an-nafs). Jika gempa terjadi:
- Jika di dalam rumah: Berlindunglah di bawah meja yang kokoh atau di sudut ruangan (segitiga kehidupan).
- Jika memungkinkan: Segera keluar menuju tanah lapang.
- Jauhi kaca, lemari, atau bangunan tinggi.
Lakukan ini sambil lisan terus berdzikir. Ini adalah bentuk tawakkal yang sempurna: hati terpaut ke Langit, kaki berpijak ikhtiar di Bumi.
3. Perbanyak Istighfar
Seringkali musibah turun karena dosa-dosa manusia yang menumpuk. Sebagaimana pesan Umar bin Khattab RA saat terjadi gempa di Madinah, beliau mengingatkan penduduk untuk bertaubat.
- Bacalah: Astaghfirullahal ‘adzim sebanyak-banyaknya.
- Istighfar mampu meredakan kemurkaan Allah dan menolak bala yang lebih besar.
4. Sedekah Setelah Keadaan Aman
Setelah gempa mereda dan kita diberi keselamatan, wujudkan rasa syukur dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (HR. Imam Baihaqi).
BACA JUGA: Doa Untuk Kedua Orang Tua Lengkap Dengan Dalil dan Tata Caranya
Frequently Asked Question
Tidak selalu. Bagi orang kafir atau pendosa, gempa bisa menjadi azab atau peringatan keras. Namun bagi orang beriman, gempa adalah ujian (ibtila’) untuk menaikkan derajat, atau cara Allah menghapus dosa-dosa mereka melalui rasa takut dan sabar yang mereka alami.
Saat gempa masih berlangsung guncangannya, utamakan menyelamatkan diri ke tempat aman (Hifz an-Nafs). Namun, setelah guncangan reda (gempa susulan), sangat dianjurkan melaksanakan Sholat Sunnah Mutlaq atau Sholat Hajat memohon perlindungan, sebagaimana Rasulullah sholat ketika terjadi gerhana.
Jika sulit menghafal doa yang panjang karena panik, cukup ucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah) atau “Hasbunallah wa ni’mal wakil” berulang-ulang.
Menolak Bala dengan Kebaikan
Sahabat Yayasan Syekh Ali Jaber, musibah bisa datang kapan saja tanpa permisi. Selain menghafal doa ketika gempa bumi, mari kita bangun “benteng spiritual” kita.
Salah satu wasiat Almarhum Syekh Ali Jaber adalah dahsyatnya kekuatan sedekah, terutama sedekah subuh, dalam menolak bala dan mengabulkan hajat. Jangan menunggu musibah datang baru kita mendekat kepada-Nya.
Mari bersama-sama kita rutinkan sedekah untuk program pendidikan penghafal Qur’an dan sosial kemanusiaan di Yayasan Syekh Ali Jaber. Semoga dengan wasilah sedekah ini, Allah jauhkan kita dan keluarga dari marabahaya.






