
Sahabat Syekh Ali Jaber yang dirahmati Allah, pernahkah Anda merasa dada sesak karena emosi yang memuncak? Rasanya ingin sekali meluapkan kekesalan lewat kata-kata atau tindakan. Itu adalah hal yang manusiawi. Namun, Islam hadir bukan untuk mematikan rasa marah tersebut, melainkan mengajarkan kita cara mengelolanya menjadi ladang pahala.
Dalam perjalanan meneladani akhlak Rasulullah SAW dan para pewaris Nabi—termasuk guru kita tercinta Almarhum Syekh Ali Jaber—kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot yang kekar, melainkan pada kemampuan menahan diri.
Pembahasan mengenai hadist tentang larangan marah menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan ini. Mari kita selami lebih dalam nasihat Rasulullah SAW yang singkat namun bisa mengantarkan kita ke Surga.
Bunyi Hadist Tentang Larangan Marah dan Artinya
Salah satu wasiat Rasulullah SAW yang paling masyhur mengenai emosi diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW dan meminta nasihat singkat.
Berikut adalah redaksi haditsnya:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah”. Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah”. (HR. Bukhari no. 6116)
Dalam riwayat lain (Thabrani), terdapat tambahan yang sangat indah yang menjadi kabar gembira bagi kita semua:
“Laa taghdob walakal jannah” Artinya: “Jangan marah, bagimu Surga.”
Apa Makna “Jangan Marah”?
Para ulama menjelaskan bahwa hadist tentang larangan marah ini memiliki dua makna utama:
-
Menahan sebab-sebab kemarahan: Melatih diri dengan akhlak mulia seperti sabar, santun, dan pemaaf.
-
Menahan diri saat emosi muncul: Ketika rasa marah itu datang, kita dilarang untuk melampiaskannya dalam bentuk perkataan kotor atau tindakan yang merusak.
Keutamaan Menahan Amarah dalam Islam
Mengapa Rasulullah SAW sampai mengulang wasiat ini berkali-kali? Karena dampak dari menahan amarah sangatlah besar, baik bagi kehidupan sosial maupun spiritual kita.
1. Tanda Kekuatan Sejati
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Ciri Penghuni Surga
Allah SWT memuji orang-orang bertaqwa dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 134, salah satunya adalah wal kadzimin al-ghaidz (orang-orang yang menahan amarahnya). Ini adalah sifat dasar para Ahlul Quran dan orang-orang shalih.
3. Meraih Cinta Allah
Ketika kita mampu memaafkan saat kita mampu membalas, di situlah letak kemuliaan. Sebagaimana Almarhum Syekh Ali Jaber yang selalu mencontohkan kelembutan hati, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya.
BACA JUGA: 5 Hadist Tentang Akhlak Mulia, Warisan Rasulullah untuk Kita
Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam
Mengetahui hadist tentang larangan marah saja tidak cukup, kita perlu mempraktikkannya. Berikut adalah langkah praktis sesuai Sunnah ketika “api” amarah mulai menyala di hati:
-
Membaca Ta’awudz: Ucapkan A’udzu billahi minasy syaithanir rajim untuk berlindung dari godaan setan yang memanaskan hati.
-
Mengubah Posisi: Jika marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika masih marah, maka berbaringlah. Ini adalah teknik grounding psikologis yang diajarkan Nabi 14 abad yang lalu.
-
Diam: “Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad). Diam mencegah kita mengucapkan kata-kata yang akan kita sesali seumur hidup.
-
Berwudhu: Marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Maka, padamkanlah dengan air wudhu.
Hubungan Sabar dan Menghafal Al-Qur’an
Di Yayasan Syekh Ali Jaber, kami melihat langsung bagaimana para santri penghafal Quran berjuang melatih kesabaran. Menghafal kalam Allah membutuhkan hati yang tenang dan bersih.
Hati yang dipenuhi amarah akan sulit ditempati oleh cahaya Al-Qur’an. Oleh karena itu, mengamalkan hadist tentang larangan marah adalah salah satu kunci sukses bagi siapa saja yang ingin dekat dengan Al-Qur’an.
Kesimpulan
Sahabat sekalian, marah adalah emosi yang wajar, namun menahannya adalah pilihan orang-orang beriman. Ingatlah janji Rasulullah: “Jangan marah, bagimu Surga.”
Mari kita jadikan hati ini lebih lapang, lebih pemaaf, dan lebih tenang. Dengan hati yang bersih, insya Allah keberkahan hidup akan lebih mudah kita raih.
Mari Salurkan Energi Positif untuk Kebaikan! Daripada membuang energi untuk marah-marah yang tidak perlu, alangkah lebih baiknya kita salurkan energi tersebut untuk mendukung lahirnya ribuan penghafal Al-Qur’an di Indonesia.
Mari bersamai langkah Yayasan Syekh Ali Jaber dalam mencetak generasi Qurani yang berakhlak mulia.






